Showing posts with label Pesawat Tempur. Show all posts
Showing posts with label Pesawat Tempur. Show all posts

Tuesday, 21 May 2013

Lockheed Martin Ready to Commit to Help KFX Project

(image; daum)

(IMP) -- Lockheed Martin’s F-35 Joint Strike Fighter (JSF) is seen as one of strongest candidates to win the FX (Fighter Experimental) III project thanks to its stealth function. However, some critics are expressing concerns about the foreign military sales (FMS) program.

They say that should the U.S. aerospace and defense giant win the 8.3-trillion-won ($7.5 billion) bid, Korea will not be able to take advantage of the most-expensive procurement deal in history.

That’s because unlike direct commercial sales (DCS), the government-to-government FMS in which Washington would broker a contract between Seoul and Lockheed Martin is likely to restrict the U.S. company from transferring technology, which Korea plans to use in the project aimed at replacing its aging fleet of F-4s and F-5s.

However, Randy Howard, Lockheed Martin’s director of the Korea F-35 campaign, says Lockheed Martin is open to technology transfer and willing to make strong and solid commitments to help Korea with the project on the back of its track record.

“Lockheed is offering a robust industrial participation, offset, and technology transfer program. The offer includes the opportunity for the Korean industry to participate as a best value global supplier in the F-35 program, manufacturing the center wing and horizontal and vertical tails of the plane,” the American told The Korea Times.

“We’re also offering a robust technology transfer program for Korea’s KF-X indigenous fighter program. This offer includes a large contingent of Lockheed Martin engineers to assist in the design and development of the aircraft as well as an extensive amount of technical data drawn from the company’s existing fighter aircraft programs.”

He cited the T-50 as the firm’s proven track record of delivering on its offset commitments, saying the training jet, manufactured by the Korea Aerospace Industries (KAI), is the product of a program that delivered technology transfer and an industrial partnership as part of the F-16 Korea Fighter Program (KFP).

Currently, along with the F-35, Boeing’s F-15 Silent Eagle (SE) and the European Aeronautic Defense and Space Company’s (EADS) Eurofighter Typhoon are competing to win the FX contract that will purchase a high-end fleet of 60 combat aircrafts and start deploying them from 2016. The Defense Acquisition Program Administration (DAPA) plans to come up with a winner by the end of June.

There is negative public sentiment about the F-35 due to the FMS, under which details of the plane’s sale must meet U.S. government regulations.

However, Howard said there is no difference between the FSM and DCS, given the export of the technology process is the same for both.

“It is the same offices, same people, same restrictions, same enablement, and the fact that it is FMS has no additional bearing on potential export or non-export of the technology to Korea. For both FMS and DCS, they both have to go to the same State Department and the same offices have to approve the transfer,” he said.

In addition, he stressed that Lockheed Martin has been very successful in getting approval and working with the U.S. government under the FMS program.

“It’s important to have a contractor who knows how to sit down and work with the U.S. government to describe the programs and get the approvals for the export of technology,” he said.

“Lockheed Martin has done this better all around the world. We set licensed co-production of F-16s here in Korea. We worked with the Japanese industry for the production of their aircraft, the F-2. We have licensed co-production for F-16s in Turkey. So all around the world we have successfully established indigenous production programs based on the F-16 and other products.”

Along with technology transfer, the cost of the high-end fleet of fighter jets is expected to play a key role.

But the Defense Security Cooperation Agency (DSCA) notified the U.S. Congress in March of a potential FMS of 60 F-35 conventional takeoff and landing (CTOL) aircraft and associated equipment, parts, training and logistical support for an estimated cost of $10.8 billion, which is way beyond DAPA’s expectations.

Howard is confident that the final cost of an F-35 program for Korea will go down, calling it a “cost ceiling.”

“The production cost of the F-35 has been reduced by 50 percent from the first year of production to the fifth year of production,” he said.

“We are in final negotiations with the U.S. government on the sixth and seventh production lots and further cost reductions will be realized. The final cost of an F-35 program will be based upon discussions that occur between the Korean and U.S. governments.”

Among the three candidates, the F-35 is the only fifth-generation multirole fighter and the director said it provides a quantum lead in capability over all fourth-generation ones.

“2G phones are functional. You can do two things ― make phone calls and get email. But it does not have any apps. It’s limited in how it functions in today’s world and for the future. It’s at the end of its production life. That is a very similar analogy to a fourth-generation airplane. It’s at the end of its production and has limited functionality, and its future is not very bright,” he said.

“And yet, smartphones change how you live your life. You can do so many more things with a smartphone: You can put new software on it because there are applications out there which you can plug and play very easily. Smartphones are multitasking and this is what the F-35 does. It multitasks."

“If I came to you and said I want you to buy 60 2G phones, and I will give you all the software that goes with it. Would this be a good deal for you? The real point I’m making is that, Korea already has the vast majority of the software, capabilities, and technology to build fourth-generation aircraft.”


Su-35 BM Pilihan Tepat Pengganti F-5 TNI AU

Kandidat Pengganti F-5 TNI AU


(IMP) -- Sejak bergabung di TNI AU tahun 1970-an yang lalu, skuadron F-5 E/F di fungsikan sebagai skuadron interceptor (pencegat). Skuadron Interceptor berarti bahwa sejatinya pesawat ini yang diharapkan akan di turunkan untuk melakukan tugas mencegat pesawat musuh memasuki wilayah kedaulatan Indonesia tanpa izin. Itu artinya skuadron ini akan lebih diarahkan untuk bertarung menghadapi pesawat lawan (Air Superiority), walaupun tidak menutup kemungkinan memiliki kemampuan serangan permukaan (Ground Attack) maupun serang kapal permukaan (Maritime Strike). Beberapa dekade yang lalu kemampuan F-5 E/F cukup mumpuni sebagai interceptor karena memiliki kecepatan diatas 1.6 Mach.


Seperti perandaian kita tadi bahwa diharapkan skuadron pengganti F-5 ini sudah full operasional paling lama di tahun 2020, maka untuk menentukan pesawat paling cocok untuk menggantikan F-5 ini, kita harus melihat gambaran kawasan sekitar Indonesia di tahun 2020 itu. Sebagai mana kita ketahui, Australia sebagai salah satu tetangga dekat Indonesia sudah berkomitment untuk membeli puluhan pesawat generasi ke 5 yaitu F-35. Demikian halnya dengan Singapura yang juga sudah berencana membeli puluhan pesawat yang sama. Sedangkan Malaysia, dalam waktu beberapa tahun kedepan akan melengkapi skuadron MRCA pengganti Mig-29 N mereka. Kandidat pemenangnya adalah F/A-18 E/F Super Hornet, EF Typhoon atau Dassault Rafale.

Dengan melihat hal ini, maka kemungkinan kedepan pesawat yang akan menjadi lawan ‘tanding’ dari calon pengganti F-5 ini adalah F-35 dan MRCA Malaysia, serta pesawat-pesawat yang ada di inventory negara tetangga saat ini. Artinya pengganti F-5 TNI AU nanti harus dipersiapkan untuk bersaing dengan F-35, F-15, F-16 Block 52, F-18, F/A-18 E/F Super Hornet, Su-30 MKM, EF Typhoon dan Dassault Rafale. Itu artinya, jika Indonesia tetap diperhitungkan di kawasan dan tidak menjadi bulan-bulanan negara tetangga seperti di tahun 1996-2005 yang lalu, maka Indonesia harus mempersiapkan calon pengganti F-5 yang tidak kalah dari calon lawan-lawannya tersebut.



Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa skuadron F-5 E.F TNI AU adalah berfungsi sebagai skuadron pencegat (interceptor), maka calon penggantinya nantipun diharapkan tidak jauh dari fungsi tersebut. Itu artinya, calon pengganti ini akan lebih diarahkan kepada kemapuan Air Superiority sebagai kemampuan utama disamping kemapuan Serangan permukaan dan anti kapal permukaan.

Siapa Kandidat yang memenuhi Kriteria?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya sebagai penulis tunggal di AnalisisMiliter.com melakukan analisa terhadap sekitar 10 type pesawat tempur yang mungkin akan masuk dalam pertimbangan TNI AU sebagai pengganti F-5. Analisa saya terhadap pesawat tersebut adalah seperti kriteria yang saya sudah sampaikan diatas, dan hasinya adalah seperti gambar di bawah ini :

Dari segi fungsi sebagai pesawat Intercept yang mengedepankan fungsi Air Superiority, maka dari banyak calon itu, saya menjagokan Su-27 SKM, Su-35 BM, F-16 Block 60, Dassault Rafale dan EF Typhoon. Saya rasa 5 pesawat ini memiliki kemapuan Air Superiority yang lebih baik dari calon yang lainnya. Kandidat lainnya memang semuanya sudah mengusung flatform multirole, namun menurut admin AnalisisMiliter.com masih kalah dalam kemampuan Air Superiority dengan kelima kandidat ini.

Namun jika ditinjau dari segi combat range yang lebih dibutuhkan fighter dengan Long Combat Range, maka dari kelima pesawat diatas saya rasa hanya Su-27 SKM, Su-30 MK2 dan Su-35 BM yang termasuk dalam kategori Long Combat Range yang dalam artian memiliki jarak tempur yang jauh sekalipun tanpa tangki cadangan atau pengisian bahan bakar di udara. Pesawat lainnya rata-rata adalah pesawat tempur dengan kemampuan Medium Combat Range yang masih kalah dari ketiga calon diatas. Namun pesawat dengan kemampuan Medium Combat Range inipun masih layak di pertimbangkan jika akan meberikan keuntungan lain jika diakuisisi oleh TNI AU.

Di tinjau dari segi kemiripan dengan inventory pesawat yag sudah ada di TNI AU saat ini (setidaknya akan ada di tahun 2015-2018), maka sepertinya Su-27 SKM, Su-30 MK2 dan Su-35 BM yang memiliki persamaan (walaupun tidak 100% sama) dengan Sukhoi-27/30 yang dimiliki Indonesia saat ini bisa menjadi pertimbangan. Kemudian F-16 Block 52 dan F-16 Block 60 bisa juga menjadi pertimbangan karena kemiripannya dengan F-16 Block 32 ++ yang akan dimiliki Indonesia beberapa tahun mendatang. Walaupun tidak 100% mirip, namun persamaan senjata, pelatihan teknisi, pilot dan lainnya bisa menjadi hal yang menguntungkan bila Indonesia memilih F-16 ini sebagai calon pengganti F-5. Selain itu, F/A-50 dari Korea Selatan juga bisa menjadi pertimbangan dari segi commonity nya dengan inventory TNI AU saat ini, karena selain memiliki kesamaan dengan T-50 TNI AU, juga merupakan “suadara kembar” dari F-16 yang juga dimiliki oleh Indonesia.

Dari segi faktor Tanker Support yang dimiliki TNI AU saat ini, maka sepertinya Su-27 SKM, Su-30 MK2 dan Su-35 BM adalah yang harus menjadi prioritas karena sangat kompatibel dengan pesawat tanker TNI AU saat ini yaitu KC-130 B. sedangkan F-16 dan FA-50 saya rasa tidak akan mendukung dalam hal ini. Sedangkan kandidat lainnya saya belum mengetahui apakah support terhadap pengisian bahan bakar di udara dengan KC-130 B TNI AU. Saya rasa faktor ini sangat penting untuk dijadikan pertimbangan TNI AU dalam memilih pengganti F-5 ini.

Nah, seperti sudah saya jabarkan sebelumnya bahwa F-35 akan menjadi calon lawan pengganti F-5 ini, maka kita harus membandingkan kemampuannya dengan F-35. Dalam hal ini, saya rasa hanya Su-35 BM, F-16 Block 60, EF Typhoon, Dassault Rafale dan Grippen NG yang bisa memberikan perlawanan terhadap F-35 yang kemungkinan akan dimiliki oleh Singapura dan Australia di tahun 2020. Dari segi kemampuan pertarungan udara, jelas F-35 yang memiliki kemampuan Stealth akan menang melawan kandidat-kandidat ini, namun saya berkeyakinan bahwa F-35 sekalipun tidak akan gegabah melawan calon2 ini. Untuk lebih detailnya akan sampaikan selanjutnya.



Menurut saya sebagai admin AnalisisMiliter.com, faktor paling penting yang harus dipertimbangkan TNI AU untuk memilih pengganti F-5 adalah apakah pesawat tersebut memiliki kemampuan untuk memberikan efek gentar menghadapi F-35. Nah dari banyak sumber, saya sudah merangkum kemampuan teknik dari F-35 dan dibandingkan dengan kandidat pengganti F-5. Pembanding yang saya ambil adalah F-35 A (Conventional Take Off Landing) yang kemungkinan akan di akuisisi oleh Singapura dan Australia. Data-data yang saya kumpulkan ini mungkin tidak 100% akurat, tetapi setidaknya sudah memberikan gambaran kasarnya. Dan hasilnya adalah seperti gambar di bawah ini :


Dari segi fitur Stealth, jelas bahwa tidak ada satupun calon pengganti F-5 ini akan mampu melawan F-35 yang memiliki fitur Stealth yang mumpuni untuk menghindar dari tangkapan radar lawan. Pesawat lainnya tidak dilengkapi dengan fitur Stealth, namun hanya melakukan pengurangan RCS saja. Maka jelas sekali bahwa calon pengganti F-5 ini harus menang dari F-35 dari faktor yang lain selain stealth.

Dari segi Maximal Speed, berita bagusnya adalah F-35 ternyata bukan pesawat yang memiliki kecepatan yang luar biasa. Tercatat kecepatannya hanya sampai dengan Mach 1.6 (1.930 km/jam), sedangkan kandidat lainnya selain JF-17 Thunder dan F/A-50 sudah memiliki kecepatan Mach 2 keatas. Sehingga dalam hal ini, calon pengganti F-5 ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan F-35. Tentu ini bisa dimanfaatkan nantinya dalam pertempuran di Udara, namun tidak akan memberikan faktor kemenangan yang sesignificant faktor firut Stealth.

Dari segi Max Load yang mampu dibawa oleh pesawat ini, saya rasa Su-27 SKM, Su-30MK2 dan SU-35 BM bisa menjadi pemenang dengan total 8.000 kg yang bisa mereka tenteng. Artinya semakin banyak senjata yang bisa dibawanya dalam pertempuran. Ini akan menambah nilai plus nya jika harus berhadapan dengan F-35. Sedangkan kandidat lainnya relatif setara bahkan masih di bawah kemampuan F-35.


Dari segi Combat Range, lagi-lagi F-35 masih mengalami kelemahan dalam hal ini. F-35 yang memang hanya dirancang sebagai Medium range Fighter, sehingga Combat Rangenya masih relatif kecil, sehingga masih bisa dilawan oleh pesawat lain. Dalam hal ini, Su-27 SKM, Su-30 MK2 dan Su-35 BM menjadi superior dibandingkan dengan F-35. Bahkan Dassault Rafale dan EF Typhoon relatif masih setara dengan F-35.

Namun menurut saya yang paling penting dipertimbangkan adalah jenis radar yang digunakan masing-masing pesawat dan kemampuan radar tersebut. Ini adalah salah satu kunci penting dalam pertarungan udara. Sebagai pembanding kita gunakan radar AN/APG-81 AESA F-35 dalam melacak target di udara yang memiliki RCS 1m2, dan dibandingkan dengan radar pesawat lainnya. Radar F-35 ini mampu melacak target tersebut dari jarak 160 km. Radar pesawat lainnya realtif belum mampu menandingi kemampuan radar F-35 ini. Radar N0001VEP yang dipakai Su-27 SKM dan Su-30 MK2 TNI AU saat ini hanya mampu melacak target yang sama dari jarak 60-70 km saja. F-16 Block 52 dengan radar APG-68(V)9 juga hanya bisa mengendus target yang sama dari jarak 46-54 km. Grippen D dengan radar PS-05A juga hanya bisa mengendusnya dari jarak 48-56 km, serta Dassault Rafale dengan radar Thales RBE2 PESA juga hanya bisa dari jarak 73-87 km. JF-17 Thunder dengan radar KLJ-7 pun hanya bisa dari jarak 70 km, apalagi F/A-50 dengan radar APG-67 V4 hanya bisa mengendusnya dari jarak 30-36 km.


(Kaskus/analisismiliter)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...